Detail Buku
Togamas Ecommerce Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang (kita Dicipta Berbeda)

Di dalam masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa yang terdiri dari beberapa tahap punya namanya masing-masing. Berawal dari bunga kelapa yang disebut manggar, lalu tumbuh menjadi bluluk, kemudian cengkir. Berlanjut menjadi degan (kelapa muda), lalu akhirnya buah kelapa yang sebenarnya.

Bak pertumbuhan buah kelapa ini, tahapan-tahapan pemahaman manusia terhadap agama pun demikian. Khusus dalam Islam, kita mengenal anak-anak tangga pemahaman yang berawal dari syariat, lalu tarekat, kemudian hakikat, dan akhirnya makrifat.

Sebagaimana buah kelapa yang sudah berkembang sempurna, yang setiap bagian dirinya bermanfaat bagi manusia, demikian pula mereka yang memiliki tingkat pemahaman agama paling tinggi. Jangan tanya keimanan, wawasan agama atau ibadahnya; melangkaui semua itu, fokus hidupnya adalah melepaskan masyarakatnya dari penderitaan, kemiskinan, kebodohan. Sebagaimana kelapa menghasilkan santan yang gurih kental, yang terlahir dari dirinya hanyalah manfaat besar bagi sekitar.

Sayang sekali, menurut Emha Ainun Nadjib, sebagian besar umat saat ini baru memiliki pemahaman ilmu agama pada tingkat bluluk. Bentuknya sudah seperti buah kelapa, namun ukurannya masih kecil, dagingnya pun belum ada, jangankan menghasilkan santan yang lezat. Para bluluk ini masih memandang agama sekadar sebagai hukum halal-haram, itulah sebabnya mereka paling cepat menyalahkan, bahkan mengafirkan, kalau mendapati praktik agama yang berbeda dengan keyakinannya.

Buku ini antara lain mengungkapkan keprihatinan Emha Ainun Nadjib tentang fenomena bluluk itu.

9786232422209 66600
Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang (kita Dicipta Berbeda)
66600

Di dalam masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa yang terdiri dari beberapa tahap punya namanya masing-masing. Berawal dari bunga kelapa yang disebut manggar, lalu tumbuh menjadi bluluk, kemudian cengkir. Berlanjut menjadi degan (kelapa muda), lalu akhirnya buah kelapa yang sebenarnya.

Bak pertumbuhan buah kelapa ini, tahapan-tahapan pemahaman manusia terhadap agama pun demikian. Khusus dalam Islam, kita mengenal anak-anak tangga pemahaman yang berawal dari syariat, lalu tarekat, kemudian hakikat, dan akhirnya makrifat.

Sebagaimana buah kelapa yang sudah berkembang sempurna, yang setiap bagian dirinya bermanfaat bagi manusia, demikian pula mereka yang memiliki tingkat pemahaman agama paling tinggi. Jangan tanya keimanan, wawasan agama atau ibadahnya; melangkaui semua itu, fokus hidupnya adalah melepaskan masyarakatnya dari penderitaan, kemiskinan, kebodohan. Sebagaimana kelapa menghasilkan santan yang gurih kental, yang terlahir dari dirinya hanyalah manfaat besar bagi sekitar.

Sayang sekali, menurut Emha Ainun Nadjib, sebagian besar umat saat ini baru memiliki pemahaman ilmu agama pada tingkat bluluk. Bentuknya sudah seperti buah kelapa, namun ukurannya masih kecil, dagingnya pun belum ada, jangankan menghasilkan santan yang lezat. Para bluluk ini masih memandang agama sekadar sebagai hukum halal-haram, itulah sebabnya mereka paling cepat menyalahkan, bahkan mengafirkan, kalau mendapati praktik agama yang berbeda dengan keyakinannya.

Buku ini antara lain mengungkapkan keprihatinan Emha Ainun Nadjib tentang fenomena bluluk itu.

0 Noura Books Indonesia< 9786232422209

Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang (Kita Dicipta Berbeda)

Emha Ainun Nadjib
Rp. 74.000
Rp. 66.600

DESKRIPSI

Di dalam masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa yang terdiri dari beberapa tahap punya namanya masing-masing. Berawal dari bunga kelapa yang disebut manggar, lalu tumbuh menjadi bluluk, kemudian cengkir. Berlanjut menjadi degan (kelapa muda), lalu akhirnya buah kelapa yang sebenarnya.

Bak pertumbuhan buah kelapa ini, tahapan-tahapan pemahaman manusia terhadap agama pun demikian. Khusus dalam Islam, kita mengenal anak-anak tangga pemahaman yang berawal dari syariat, lalu tarekat, kemudian hakikat, dan akhirnya makrifat.

Sebagaimana buah kelapa yang sudah berkembang sempurna, yang setiap bagian dirinya bermanfaat bagi manusia, demikian pula mereka yang memiliki tingkat pemahaman agama paling tinggi. Jangan tanya keimanan, wawasan agama atau ibadahnya; melangkaui semua itu, fokus hidupnya adalah melepaskan masyarakatnya dari penderitaan, kemiskinan, kebodohan. Sebagaimana kelapa menghasilkan santan yang gurih kental, yang terlahir dari dirinya hanyalah manfaat besar bagi sekitar.

Sayang sekali, menurut Emha Ainun Nadjib, sebagian besar umat saat ini baru memiliki pemahaman ilmu agama pada tingkat bluluk. Bentuknya sudah seperti buah kelapa, namun ukurannya masih kecil, dagingnya pun belum ada, jangankan menghasilkan santan yang lezat. Para bluluk ini masih memandang agama sekadar sebagai hukum halal-haram, itulah sebabnya mereka paling cepat menyalahkan, bahkan mengafirkan, kalau mendapati praktik agama yang berbeda dengan keyakinannya.

Buku ini antara lain mengungkapkan keprihatinan Emha Ainun Nadjib tentang fenomena bluluk itu.

DETAIL BUKU

Penerbit : Noura Books
Tahun : 2021
Halaman : -
Berat : 300 Gram
Dimensi : 14 x 21 Cm
Bahasa : Indonesia
Cover : Soft
ISBN/EAN : 9786232422209
  • M Frustasi Dan Sajak Jatuh Cinta
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 99.000
    Rp. 89.100
  • Rahman Rahim Cinta
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 79.000
    Rp. 71.100
  • Apa Yang Benar, Bukan Siapa Yang Benar
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 79.000
    Rp. 71.100
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 79.000
    Rp. 71.100
  • Lockdown 309 Tahun
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 79.000
    Rp. 71.100
  • Islam Itu Rahmatan Lil Alamin Bukan Untuk Kamu Sendiri
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 69.000
    Rp. 62.100
  • Dari Pojok Sejarah
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 125.000
    Rp. 112.500
  • Sinau Bareng Markesot (Daur VII)
    Emha Ainun Nadjib
    Rp. 99.000
    Rp. 89.100

RATING DAN ULASAN

RATING PELANGGAN

  • |
  • 0 dari 5
Berdasarkan 0 Peringkat & Ulasan
Rekomendasi
0
Sangat Puas
0
Puas
0
Di Bawah Rata-Rata
0
Tidak Puas
0