Detail Buku
Togamas Ecommerce Yel

Putu Wijaya adalah seorang tukang cerita profesional dan ahli ngobrol yang piawai. Hampir semua yang kelihatan di mata atau tersentuh kakinya dapat dijadikannya sebuah cerita atau obrolan yang memikat: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepak bola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru.

Daya tarik cerpen-cerpen ini terutama bukanlah lantaran jalan ceritanya, tetapi karena Putu bisa menggabungkan beberapa hal yang nampaknya saling bertentangan dan karena itu saling menantang atau saling mengejek: gayanya yang bermain-main tanpa beban, kalimatnya yang tegas dan lugas, peristiwa-peristiwa remeh-temeh dan sebuah surprise yang serius di salah satu bagian ceritanya.

Dalam membaca Putu, terasa benar bahwa ia tidaklah merencanakan terlebih dulu ceritanya, tetapi bercerita selagi mengarang, dan hal ini dapat berkembang sedemikian jauhnya sehingga menimbulkan pertanyaan pada pembaca: apakah dia mengarang karena hendak bercerita, ataukah dia bercerita karena harus selalu mengarang?

Betapa pun kadang-kadang timbul kesulitan mengikuti ceritanya, atau malahan rasa bosan menghadapi sikapnya yang bermain-main, semua ini bisa ditawar oleh pengharapan bahwa pengarang pastilah memberikan suatu kejutan yang tidak terduga-duga pada suatu titik tertentu atau bahkan pada kalimat terakhir ceritanya. Saya tak tahu apakah ini suatu yang wajar dalam membaca cerita. Dalam keadaan seperti itu, yang saya nikmati bukanlah hanya cerita itu pada dasarnya, tetapi sesuatu di balik cerita, seakan-akan saya bekerja dengan rajin bukan karena menyukai pekerjaan itu, tetapi karena mengharapkan pujian bos atau bonus tambahan pada hari gajian. Dengan kata lain kata-kata yang lebih keren: cerita Putu bagi saya bukan hanya sebuah narrative tetapi juga sebuah meta-narrative.

9786233052634 102000
Yel
102000

Putu Wijaya adalah seorang tukang cerita profesional dan ahli ngobrol yang piawai. Hampir semua yang kelihatan di mata atau tersentuh kakinya dapat dijadikannya sebuah cerita atau obrolan yang memikat: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepak bola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru.

Daya tarik cerpen-cerpen ini terutama bukanlah lantaran jalan ceritanya, tetapi karena Putu bisa menggabungkan beberapa hal yang nampaknya saling bertentangan dan karena itu saling menantang atau saling mengejek: gayanya yang bermain-main tanpa beban, kalimatnya yang tegas dan lugas, peristiwa-peristiwa remeh-temeh dan sebuah surprise yang serius di salah satu bagian ceritanya.

Dalam membaca Putu, terasa benar bahwa ia tidaklah merencanakan terlebih dulu ceritanya, tetapi bercerita selagi mengarang, dan hal ini dapat berkembang sedemikian jauhnya sehingga menimbulkan pertanyaan pada pembaca: apakah dia mengarang karena hendak bercerita, ataukah dia bercerita karena harus selalu mengarang?

Betapa pun kadang-kadang timbul kesulitan mengikuti ceritanya, atau malahan rasa bosan menghadapi sikapnya yang bermain-main, semua ini bisa ditawar oleh pengharapan bahwa pengarang pastilah memberikan suatu kejutan yang tidak terduga-duga pada suatu titik tertentu atau bahkan pada kalimat terakhir ceritanya. Saya tak tahu apakah ini suatu yang wajar dalam membaca cerita. Dalam keadaan seperti itu, yang saya nikmati bukanlah hanya cerita itu pada dasarnya, tetapi sesuatu di balik cerita, seakan-akan saya bekerja dengan rajin bukan karena menyukai pekerjaan itu, tetapi karena mengharapkan pujian bos atau bonus tambahan pada hari gajian. Dengan kata lain kata-kata yang lebih keren: cerita Putu bagi saya bukan hanya sebuah narrative tetapi juga sebuah meta-narrative.

0 Diva Press Indonesia< 9786233052634

Yel

Putu Wijaya
Rp. 120.000
Rp. 102.000

DESKRIPSI

Putu Wijaya adalah seorang tukang cerita profesional dan ahli ngobrol yang piawai. Hampir semua yang kelihatan di mata atau tersentuh kakinya dapat dijadikannya sebuah cerita atau obrolan yang memikat: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepak bola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru.

Daya tarik cerpen-cerpen ini terutama bukanlah lantaran jalan ceritanya, tetapi karena Putu bisa menggabungkan beberapa hal yang nampaknya saling bertentangan dan karena itu saling menantang atau saling mengejek: gayanya yang bermain-main tanpa beban, kalimatnya yang tegas dan lugas, peristiwa-peristiwa remeh-temeh dan sebuah surprise yang serius di salah satu bagian ceritanya.

Dalam membaca Putu, terasa benar bahwa ia tidaklah merencanakan terlebih dulu ceritanya, tetapi bercerita selagi mengarang, dan hal ini dapat berkembang sedemikian jauhnya sehingga menimbulkan pertanyaan pada pembaca: apakah dia mengarang karena hendak bercerita, ataukah dia bercerita karena harus selalu mengarang?

Betapa pun kadang-kadang timbul kesulitan mengikuti ceritanya, atau malahan rasa bosan menghadapi sikapnya yang bermain-main, semua ini bisa ditawar oleh pengharapan bahwa pengarang pastilah memberikan suatu kejutan yang tidak terduga-duga pada suatu titik tertentu atau bahkan pada kalimat terakhir ceritanya. Saya tak tahu apakah ini suatu yang wajar dalam membaca cerita. Dalam keadaan seperti itu, yang saya nikmati bukanlah hanya cerita itu pada dasarnya, tetapi sesuatu di balik cerita, seakan-akan saya bekerja dengan rajin bukan karena menyukai pekerjaan itu, tetapi karena mengharapkan pujian bos atau bonus tambahan pada hari gajian. Dengan kata lain kata-kata yang lebih keren: cerita Putu bagi saya bukan hanya sebuah narrative tetapi juga sebuah meta-narrative.

DETAIL BUKU

Penerbit : Diva Press
Tahun : 2022
Halaman : -
Berat : 500 Gram
Dimensi : 15 x 23 Cm
Bahasa : Indonesia
Cover : Soft
ISBN/EAN : 9786233052634
  • Telegram
    Putu Wijaya
    Rp. 55.000
    Rp. 49.500
  • Ha Ha Ha
    Putu Wijaya
    Rp. 80.000
    Rp. 72.000
  • Indonesia - Tetralogi 4
    Putu Wijaya
    Rp. 90.000
    Rp. 81.000
  • Dangdut - Tetralogi 1
    Putu Wijaya
    Rp. 80.000
    Rp. 72.000
  • Mala - Tetralogi 3
    Putu Wijaya
    Rp. 100.000
    Rp. 90.000
  • Nora - Tetralogi 2
    Putu Wijaya
    Rp. 85.000
    Rp. 76.500
  • Stasiun
    Putu Wijaya
    Rp. 60.000
    Rp. 54.000
  • Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap
    Toshikazu Kawa
    Rp. 70.000
    Rp. 63.000

RATING DAN ULASAN

RATING PELANGGAN

  • |
  • 0 dari 5
Berdasarkan 0 Peringkat & Ulasan
Rekomendasi
0
Sangat Puas
0
Puas
0
Di Bawah Rata-Rata
0
Tidak Puas
0